Jumat, 30 Desember 2011

AWAL MULA Part 2

Bleach, Hana Kimi J&K-Lovers

#Siang hari, Taman UIN depan masjid
        Spica yang sedang asyik bergelut dengan laptopnya dikagetkan oleh seorang cowok yang menghampirinya.
        “Onee-chan…” sapa cowok itu seraya berlari kearah Spica.
        Spica yang merasa terganggu langsung mengirim death glare.
        “Ukh!! Santai donk Onee-chan…”
        “Mau apa kau kesini?”
        “Mau jemput Onee-chan laaah…?!!”
        “Jemput? Emang kita mau kemana?” pikir Spica. “Oh iya!” kata Spica sambil menepuk jidatnya sendiri karena telah melupakan tugas penting. “Nanti dulu ya?! Aku harus selesaikan ini dulu…” kata Spica sambil menunjuk laptopnya.
        “Iya.. Iya.. Onee-chan kan memang selalu sibuk sebagai saintist. Hoho… XD”
        “He…” kata Spica sambil tersenyum dan kembali lagi serius dengan laptopnya.
        “Btw, Onee-chan sedang menulis apa sih?”
        “Venus…!! Diamlah!!” kata Spica kesal.
        Cemberut. Lalu Venus pun duduk di samping Spica dan ikut-ikutan menatap laptopnya Spica.
        “Oooh…” Venus, cowok yang memanggil Spica tadi, hanya bisa ber”oooh”ria melihat kakak sepupunya itu menulis sesuatu mengenai laporan percobaan rekayasa genetika pada tumbuhan.

#Jogja Town House
        Kini giliran Byakuya, Rukia dan Hanataro yang keluar.
        Mereka bagi tugas. Hanataro dan Rukia menyelidiki rumah sakit yang kira-kira dijadikan tempat untuk membawa pasien  yang terkena serangan hollow di dekat JEC. Tentu saja mencarinya dengan acuan terasanya reiatsu. Sementara itu Byakuya akan mencarinya di luar kota. Mereka menyelidikinya dengan mode shinigami.
        Sementara itu para mod soul mereka merawat kucing yang dibawa oleh para cowok yang ternyata sampai siang masih tertidur pulas.

#Rukia dan Hanataro
        Mereka berdua sampai di RS Bethesda. Di rumah sakit ini terasa beberapa reiatsu  yang cukup besar. Lalu mereka memasuki sebuah kamar pasien yang bernama Ryuzaki yang mempunyai reiatsu paling besar diantara semuanya. Ternyata Ryuzaki itu sudah sadar dan baik-baik saja. Dia terkejut ketika melihat Rukia dan Hanataro, tamu tak diundang, masuk ke ruang rawatnya. Tapi dia tidak serta merta teriak (gengsi doonk… masa cowok teriak-teriak gak jelas?!!).
        Kemudian Rukia yang tahu sedang diperhatikan dengan mata terkejut oleh Ryuzaki menyuruh Ryuzaki diam dulu sampai orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pergi. Ryuzaki pun hanya mengangguk pelan.
        Setelah semuanya pergi…
        “Siapa kalian?” tanya Ryuzaki dengan suara pelan.
        “Perkenalkan! Namaku Hanataro. Salam kenal…” Kata Hanataro polos sambil membungkukkan badannya.
        “Ah! Aku Rukia Kuchiki! Salam kenal…” kata Rukia tersenyum sambil membungkukkan badannya.
        “A… Apa sebenarnya kalian ini? Ah ya! Namaku Ryuzaki, salam kenal juga.” kata Ryuzaki.
        “Ah! Sebenarnya kami adalah shinigami.” jawab Rukia.
        “Apa?! Shinigami?” tanya Ryuzaki heran. “Apa itu shinigami?”
        “Ah, shinigami itu…”

#Taman UIN depan masjid
        “OK!! Finish!!” kata Spica tersenyum puas.
        “Horeee… Akhirnya selesai juga..!!” teriak Venus ikut senang lalu merenggangkan badannya yang ternyata pegal-pegal.
        “Yeah! Sekarang bantu aku beres-beres!” pinta Spica sambil menyuruh.
        “He?!” kata Venus ingin protes yang langsung dipotong Spica.
        “Kalau kau tidak bantu, akan tambah lama! Aku harus serahkan dokumen ini pada dosenku dulu juga!” kata Spica sambil melepas flashnya.
        “Ukh! Baiklah…” kata Venus dengan lesu.
        Spica pun tersenyum dan berlalu. Entah kenapa Venus jadi semangat melihat senyuman kakak sepupunya itu. Lalu dia pun membereskan barang-barang Spica seperti biasanya (Apa?! Seperti biasanya? :O Udah lama donk jadi pembantunya Spica?! Kenapa gak sekalian dijadikan asistennya?!). Kemudian ketika hendak memasukkan buku-buku ke dalam tasnya Spica, dia melihat sesuatu yang menarik.
        “Hmm… Apa ini?! Oh!! Diary punya Onee-chan!” kata Venus dengan wajah memerah. Lalu membuka-buka dan membaca sekilas sambil menunggu Spica. Dan kadang-kadang dia blushing sendiri tapi kadang-kadang dia juga cemberut dan berpikir serius. Lalu dia tiba di bagian kunjungan di JEC. Dia terkejut ketika membacanya.
        “Mu-mustahil!! O-onee-chan… Dia..” katanya dengan wajah horor.

#Rukia & Hanataro, RS Bethesda
        “Begitulah…” kata Rukia mengakhiri penjelasan dan permohonannya agar Ryuzaki mau membantu penyelidikan mereka (mereka jadi detektif).
        “Mmm…” Ryuzaki tampak berpikir. “Baiklah!” katanya dengan tersenyum, “Aku akan bantu kalian sebisaku setelah keluar dari rumah sakit!” katanya dengan semangat muda, yeeaaah…!! \o/
        “Ah! Terima kasih!” kata Rukia dan Hanataro bebarengan sambil membungkukkan badan dan tersenyum senang seperti telah menyelesaikan masalah yang sangat berat.
        “Oh, ya! Ini alamat kami.” Entah sejak kapan Rukia punya card name dan menyerahkannya pada Ryuzaki. “Hubungi aku jika kau sudah keluar dari rumah sakit ya?! (‘u^)~ ” kata Rukia sambil mengejapkan satu matanya, membuat tangannya seperti telepon dan tersenyum membuat Ryuzaki terpesona. (Sejak kapan Rukia pandai merayu??!!)
        “U-uwaah… Ru-Rukia-san… Ka-kau…” batin Hanataro.
        “U-ukh! Ba-baiklah…” kata Ryuzaki yang sudah sadar dari rasa terpesonanya.

#Kampus Fak. Saintek UIN
        Sementara itu Spica yang sedang mencari dosennya merasakan perasaan tidak enak.
        DEG!! “Ada apa ini? Sepertinya ada sebuah rahasia yang terungkap.” batin Spica. Tapi dia tetap terus mencari dosennya dan akhirnya ketemu. Dia lalu berkonsultasi dan tersenyum puas setelah keluar dari ruang dosen.

        Tiba-tiba dia teringat bahwa dia harus bergegas ke rumah sakit untuk menjaga si kembar yang menyelamatkannya dari makhluk aneh yang muncul di JEC. Lalu dia pun bergegas lari keluar.
        Dia berlari ke arah Venus yang sedang berpikir.
        “Ah! Terima kasih sudah merapikannya!” kata Spica seraya tersenyum. Senyumannya itu membuat Venus sadar dari lamunannya.
        “Ah! Ya! Sama-sama…” kata Venus juga dengan tersenyum.
        “Ayo!!” Spica sudah lari ke tempat parkir.
        “Eh?!! Matte yoo~ Onee-chaaan…” teriak Venus yang baru sadar ditinggal jauh oleh Spica.
        Spica berhenti berlari dan berbalik. “Apa?!! Mati yo?!!!!” kata Spica dengan wajah seram.
        “Hiiiyy…” Venus berhenti berlari dan bergidik ngeri, “Bu-bukan! Ma-maksudnya wa-wait me…” kata Venus terbata-bata.
        “Ooowh…” kata Spica tampak lega lalu meneruskan berjalan ke arah pintu keluar dekat tempat parkir.
        “Fiuuuh…” Venus menghela napas lega dan langsung mengeluarkan motornya. Lalu mereka pun bergegas ke rumah sakit. RS Sardjito.

#RS Sardjito
        Spica dan Venus yang sudah sampai langsung bergegas ke arah ruang rawat si kembar di lantai 3.

>>Ruang Rawat
        Spica langsung mengganti bunga kemarin dengan bunga baru di vas bunga yang ada diantara si kembar yang tidur berdampingan. Venus menatap kedua saudara kembarnya itu, Helios dan Hydra. Ya! Mereka adalah saudara beda ibu. Tapi mereka tetap saling melindungi satu sama lain. Dan tentu saja Spica juga sudah tahu hal itu.
        Hydra dan Helios juga sudah kuliah sama seperti Spica dan Venus. Hanya saja mereka kuliah di UGM sedangkan Venus kuliah di UNY dan Spica di UIN.
        Tok! Tok! Greeek… Pintu terbuka. Dokter yang memeriksa si kembar pun datang. Spica dan Venus tersenyum menyambut kedtangan dokter yang akan memeriksa si kembar lalu membarkan dokter itu memeriksa si kembar. Sementara dokter memeriksa si kembar, Venus dan Spica mengingat kembali kejadian di JEC.

*Flashback in Spica’s memory @ JEC*
        Ketika cuaca cerah mulai berubah, tragedi pun terjadi (==” lebay).
        Dari langit muncul lubang hitam yang besar. Spica yang heran dengan cuaca mendongak ke atas.
        “Eh???” clingak clinguk, “Ada apa ini? Kenapa cuaca tiba-tiba berubah? Angin ini… Uwaah… Kenceng bangets… >,< Ukh! Awww…!!” batin Spica sambil menggosok matanya yang keliliban (seharusnya jangan digosok!!).
        Kaget melihat langit. “Loh? Kok tiba-tiba banyak awan hitam ki? Arep udan po yo?” batinnya sambil tengok ke arah anak-anak Hana Mori yang lain yang sebagian masih asyik melihat kabaret Inuyasha seperti tidak menyadari perubahan cuaca. Kemudian dia mendongak lagi ke langit untuk memastikan sesuatu. Dan ternyataaa…
        Di langit ada lubang hitam! “Uwooooh…. Apaan tuh? Ah! Ada black hole di langit??!!! (>o<)/” teriaknya dalam hati.
        Kemudian Spica mengamati lubang itu, “?????????????” kepalanya lenggok kanan lenggok kiri (kayak nari aja --“). Saat sedang asyik mengamati tiba-tiba dia diterjang dari belakang.
        “Spica nee-san! Awas!!” teriak sang penerjang.
        “He?” Spica cengo ketika melihat ke asal suara dan, “Uwaaaakh…!” Gabruk! Bruk! Jduk! “Adaawww…!” (benar-benar gak elegan -,-)
        Spica jatuh bersama Hydra yang menerjangnya. “Apaan sih?!” kata Spica sambil nyengir kesakitan gara-gara ditubruk dan terantuk kepala Hydra. Hydra sendiri masih pusing dan di kepalanya ada Kon yang berlari berputar-putar. Dan tiba-tiba saja Helios yang sudah berada dihadapan mereka berdua ambruk. Spica dan Hydra kaget.
        “Eh?!!!” kata Spica terkejut.
        “Cih! Sial!!” kata Hydra dengan wajah aneh.
        Tiba-tiba dari seberang terdengar suara, “Spica! Hydra! Helios!”
        Orang yang memanggil mereka itu setengah berlari dan ketika hampir sampai, tiba-tiba langkahnya terhenti. Si pemanggil menampakkan raut wajah campuran antara terkejut, khawatir, kesal, marah, takut, dll, dsb.
        “Eh? Kenapa tuh anak?” tanya Spica yang sudah berhasil lepas dari tersangkut selokan kepada Hydra yang wajahnya tiba-tiba pucat. Dia menggumamkan kata, “V-Venus-san dalam bahaya stadium 4.”
        “Ha??” Spica sweat drop. Saat dia heran, dia sempat melihat wajah Hydra berubah jadi waspada dan panik sebelum Hydra tiba-tiba hilang dari pandangannya dan menuju ke arah Venus yang seperti tampak tak berdaya. Dan selang beberapa saat ketika dia sedang berpikir bahwa Hydra punya kegesitan yang mengagumkan, tiba-tiba Hydra ambruk setelah wajah terkejut Venus muncul.
       
        Beberapa menit kemudian setelah Hydra dan Helios ambruk, langit berubah jadi cerah lagi. Namun beberapa orang yang tadinya tenang-tenang saja mulai menjerit terkejut ketika orang disebelahnya pingsan mendadak.
        Spica yang terkejut ketika melihat sekeliling juga langsung mencoba membangunkan Helios yang tidak jauh dari hadapannya. Lalu begitu tahu bahwa Helios pingsan dan beberapa orang juga mengalami hal serupa, dia langsung memanggil ambulan dari beberapa rumah sakit (soalnya yang pingsan banyak sekali). Akhirnya dia dengan jantung berdegup kencangn karena kejadian itu membantu tim medis menolong beberapa orang yang ntah kenapa juga terluka termasuk Venus.

*Flashback End*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar