Bleach, Hana Kimi J&K-Lovers
#Siang hari,
Taman UIN depan masjid
Spica yang sedang asyik bergelut dengan
laptopnya dikagetkan oleh seorang cowok yang menghampirinya.
“Onee-chan…” sapa cowok itu seraya
berlari kearah Spica.
Spica yang merasa terganggu langsung
mengirim death glare.
“Ukh!! Santai donk Onee-chan…”
“Mau apa kau kesini?”
“Mau jemput Onee-chan laaah…?!!”
“Jemput? Emang kita mau kemana?” pikir
Spica. “Oh iya!” kata Spica sambil menepuk jidatnya sendiri karena telah melupakan
tugas penting. “Nanti dulu ya?! Aku harus selesaikan ini dulu…” kata Spica
sambil menunjuk laptopnya.
“Iya.. Iya.. Onee-chan kan memang selalu
sibuk sebagai saintist. Hoho… XD”
“He…” kata Spica sambil tersenyum dan
kembali lagi serius dengan laptopnya.
“Btw, Onee-chan sedang menulis apa sih?”
“Venus…!! Diamlah!!” kata Spica kesal.
Cemberut. Lalu Venus pun duduk di
samping Spica dan ikut-ikutan menatap laptopnya Spica.
“Oooh…” Venus, cowok yang memanggil
Spica tadi, hanya bisa ber”oooh”ria melihat kakak sepupunya itu menulis sesuatu
mengenai laporan percobaan rekayasa genetika pada tumbuhan.
#Jogja
Town House
Kini giliran Byakuya, Rukia dan Hanataro
yang keluar.
Mereka bagi tugas. Hanataro dan Rukia
menyelidiki rumah sakit yang kira-kira dijadikan tempat untuk membawa
pasien yang terkena serangan hollow di
dekat JEC. Tentu saja mencarinya dengan acuan terasanya reiatsu. Sementara itu
Byakuya akan mencarinya di luar kota. Mereka menyelidikinya dengan mode
shinigami.
Sementara itu para mod soul mereka
merawat kucing yang dibawa oleh para cowok yang ternyata sampai siang masih
tertidur pulas.
#Rukia
dan Hanataro
Mereka berdua sampai di RS Bethesda. Di
rumah sakit ini terasa beberapa reiatsu
yang cukup besar. Lalu mereka memasuki sebuah kamar pasien yang bernama
Ryuzaki yang mempunyai reiatsu paling besar diantara semuanya. Ternyata Ryuzaki
itu sudah sadar dan baik-baik saja. Dia terkejut ketika melihat Rukia dan
Hanataro, tamu tak diundang, masuk ke ruang rawatnya. Tapi dia tidak serta
merta teriak (gengsi doonk… masa cowok teriak-teriak gak jelas?!!).
Kemudian Rukia yang tahu sedang
diperhatikan dengan mata terkejut oleh Ryuzaki menyuruh Ryuzaki diam dulu
sampai orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pergi. Ryuzaki pun hanya
mengangguk pelan.
Setelah semuanya pergi…
“Siapa kalian?” tanya Ryuzaki dengan
suara pelan.
“Perkenalkan! Namaku Hanataro. Salam
kenal…” Kata Hanataro polos sambil membungkukkan badannya.
“Ah! Aku Rukia Kuchiki! Salam kenal…”
kata Rukia tersenyum sambil membungkukkan badannya.
“A… Apa sebenarnya kalian ini? Ah ya!
Namaku Ryuzaki, salam kenal juga.” kata Ryuzaki.
“Ah! Sebenarnya kami adalah shinigami.”
jawab Rukia.
“Apa?! Shinigami?” tanya Ryuzaki heran.
“Apa itu shinigami?”
“Ah, shinigami itu…”
#Taman
UIN depan masjid
“OK!! Finish!!” kata Spica tersenyum
puas.
“Horeee… Akhirnya selesai juga..!!”
teriak Venus ikut senang lalu merenggangkan badannya yang ternyata pegal-pegal.
“Yeah! Sekarang bantu aku beres-beres!”
pinta Spica sambil menyuruh.
“He?!” kata Venus ingin protes yang
langsung dipotong Spica.
“Kalau kau tidak bantu, akan tambah
lama! Aku harus serahkan dokumen ini pada dosenku dulu juga!” kata Spica sambil
melepas flashnya.
“Ukh! Baiklah…” kata Venus dengan lesu.
Spica pun tersenyum dan berlalu. Entah
kenapa Venus jadi semangat melihat senyuman kakak sepupunya itu. Lalu dia pun
membereskan barang-barang Spica seperti biasanya (Apa?! Seperti biasanya? :O
Udah lama donk jadi pembantunya Spica?! Kenapa gak sekalian dijadikan
asistennya?!). Kemudian ketika hendak memasukkan buku-buku ke dalam tasnya
Spica, dia melihat sesuatu yang menarik.
“Hmm… Apa ini?! Oh!! Diary punya
Onee-chan!” kata Venus dengan wajah memerah. Lalu membuka-buka dan membaca
sekilas sambil menunggu Spica. Dan kadang-kadang dia blushing sendiri tapi
kadang-kadang dia juga cemberut dan berpikir serius. Lalu dia tiba di bagian
kunjungan di JEC. Dia terkejut ketika membacanya.
“Mu-mustahil!! O-onee-chan… Dia..”
katanya dengan wajah horor.
#Rukia
& Hanataro, RS Bethesda
“Begitulah…” kata Rukia mengakhiri
penjelasan dan permohonannya agar Ryuzaki mau membantu penyelidikan mereka
(mereka jadi detektif).
“Mmm…” Ryuzaki tampak berpikir.
“Baiklah!” katanya dengan tersenyum, “Aku akan bantu kalian sebisaku setelah
keluar dari rumah sakit!” katanya dengan semangat muda, yeeaaah…!! \o/
“Ah! Terima kasih!” kata Rukia dan
Hanataro bebarengan sambil membungkukkan badan dan tersenyum senang seperti
telah menyelesaikan masalah yang sangat berat.
“Oh, ya! Ini alamat kami.” Entah sejak kapan
Rukia punya card name dan menyerahkannya pada Ryuzaki. “Hubungi aku jika kau
sudah keluar dari rumah sakit ya?! (‘u^)~ ” kata Rukia sambil
mengejapkan satu matanya, membuat tangannya seperti telepon dan tersenyum
membuat Ryuzaki terpesona. (Sejak kapan Rukia pandai merayu??!!)
“U-uwaah… Ru-Rukia-san… Ka-kau…” batin
Hanataro.
“U-ukh! Ba-baiklah…” kata Ryuzaki yang
sudah sadar dari rasa terpesonanya.
#Kampus
Fak. Saintek UIN
Sementara itu Spica yang sedang mencari
dosennya merasakan perasaan tidak enak.
DEG!! “Ada apa ini? Sepertinya ada
sebuah rahasia yang terungkap.” batin Spica. Tapi dia tetap terus mencari
dosennya dan akhirnya ketemu. Dia lalu berkonsultasi dan tersenyum puas setelah
keluar dari ruang dosen.
Tiba-tiba dia teringat bahwa dia harus
bergegas ke rumah sakit untuk menjaga si kembar yang menyelamatkannya dari
makhluk aneh yang muncul di JEC. Lalu dia pun bergegas lari keluar.
Dia berlari ke arah Venus yang sedang
berpikir.
“Ah! Terima kasih sudah merapikannya!”
kata Spica seraya tersenyum. Senyumannya itu membuat Venus sadar dari
lamunannya.
“Ah! Ya! Sama-sama…” kata Venus juga
dengan tersenyum.
“Ayo!!” Spica sudah lari ke tempat
parkir.
“Eh?!! Matte yoo~ Onee-chaaan…” teriak
Venus yang baru sadar ditinggal jauh oleh Spica.
Spica berhenti berlari dan berbalik.
“Apa?!! Mati yo?!!!!” kata Spica dengan wajah seram.
“Hiiiyy…” Venus berhenti berlari dan
bergidik ngeri, “Bu-bukan! Ma-maksudnya wa-wait me…” kata Venus terbata-bata.
“Ooowh…” kata Spica tampak lega lalu
meneruskan berjalan ke arah pintu keluar dekat tempat parkir.
“Fiuuuh…” Venus menghela napas lega dan
langsung mengeluarkan motornya. Lalu mereka pun bergegas ke rumah sakit. RS
Sardjito.
#RS
Sardjito
Spica dan Venus yang sudah sampai
langsung bergegas ke arah ruang rawat si kembar di lantai 3.
>>Ruang
Rawat
Spica langsung mengganti bunga kemarin
dengan bunga baru di vas bunga yang ada diantara si kembar yang tidur
berdampingan. Venus menatap kedua saudara kembarnya itu, Helios dan Hydra. Ya!
Mereka adalah saudara beda ibu. Tapi mereka tetap saling melindungi satu sama
lain. Dan tentu saja Spica juga sudah tahu hal itu.
Hydra dan Helios juga sudah kuliah sama
seperti Spica dan Venus. Hanya saja mereka kuliah di UGM sedangkan Venus kuliah
di UNY dan Spica di UIN.
Tok! Tok! Greeek… Pintu terbuka. Dokter
yang memeriksa si kembar pun datang. Spica dan Venus tersenyum menyambut
kedtangan dokter yang akan memeriksa si kembar lalu membarkan dokter itu
memeriksa si kembar. Sementara dokter memeriksa si kembar, Venus dan Spica
mengingat kembali kejadian di JEC.
*Flashback
in Spica’s memory @ JEC*
Ketika cuaca cerah mulai berubah,
tragedi pun terjadi (==” lebay).
Dari langit muncul lubang hitam yang
besar. Spica yang heran dengan cuaca mendongak ke atas.
“Eh???” clingak clinguk, “Ada apa ini?
Kenapa cuaca tiba-tiba berubah? Angin ini… Uwaah… Kenceng bangets… >,<
Ukh! Awww…!!” batin Spica sambil menggosok matanya yang keliliban (seharusnya
jangan digosok!!).
Kaget melihat langit. “Loh? Kok
tiba-tiba banyak awan hitam ki? Arep udan po yo?” batinnya sambil tengok ke
arah anak-anak Hana Mori yang lain yang sebagian masih asyik melihat kabaret
Inuyasha seperti tidak menyadari perubahan cuaca. Kemudian dia mendongak lagi
ke langit untuk memastikan sesuatu. Dan ternyataaa…
Di langit ada lubang hitam! “Uwooooh….
Apaan tuh? Ah! Ada black hole di langit??!!! (>o<)/” teriaknya dalam
hati.
Kemudian Spica mengamati lubang itu,
“?????????????” kepalanya lenggok kanan lenggok kiri (kayak nari aja --“). Saat
sedang asyik mengamati tiba-tiba dia diterjang dari belakang.
“Spica nee-san! Awas!!” teriak sang
penerjang.
“He?” Spica cengo ketika melihat ke asal
suara dan, “Uwaaaakh…!” Gabruk! Bruk! Jduk! “Adaawww…!” (benar-benar gak elegan
-,-)
Spica jatuh bersama Hydra yang
menerjangnya. “Apaan sih?!” kata Spica sambil nyengir kesakitan gara-gara
ditubruk dan terantuk kepala Hydra. Hydra sendiri masih pusing dan di kepalanya
ada Kon yang berlari berputar-putar. Dan tiba-tiba saja Helios yang sudah
berada dihadapan mereka berdua ambruk. Spica dan Hydra kaget.
“Eh?!!!” kata Spica terkejut.
“Cih! Sial!!” kata Hydra dengan wajah
aneh.
Tiba-tiba dari seberang terdengar suara,
“Spica! Hydra! Helios!”
Orang yang memanggil mereka itu setengah
berlari dan ketika hampir sampai, tiba-tiba langkahnya terhenti. Si pemanggil
menampakkan raut wajah campuran antara terkejut, khawatir, kesal, marah, takut,
dll, dsb.
“Eh? Kenapa tuh anak?” tanya Spica yang
sudah berhasil lepas dari tersangkut selokan kepada Hydra yang wajahnya
tiba-tiba pucat. Dia menggumamkan kata, “V-Venus-san dalam bahaya stadium 4.”
“Ha??” Spica sweat drop. Saat dia heran,
dia sempat melihat wajah Hydra berubah jadi waspada dan panik sebelum Hydra
tiba-tiba hilang dari pandangannya dan menuju ke arah Venus yang seperti tampak
tak berdaya. Dan selang beberapa saat ketika dia sedang berpikir bahwa Hydra
punya kegesitan yang mengagumkan, tiba-tiba Hydra ambruk setelah wajah terkejut
Venus muncul.
Beberapa menit kemudian setelah Hydra
dan Helios ambruk, langit berubah jadi cerah lagi. Namun beberapa orang yang
tadinya tenang-tenang saja mulai menjerit terkejut ketika orang disebelahnya
pingsan mendadak.
Spica yang terkejut ketika melihat
sekeliling juga langsung mencoba membangunkan Helios yang tidak jauh dari
hadapannya. Lalu begitu tahu bahwa Helios pingsan dan beberapa orang juga
mengalami hal serupa, dia langsung memanggil ambulan dari beberapa rumah sakit
(soalnya yang pingsan banyak sekali). Akhirnya dia dengan jantung berdegup
kencangn karena kejadian itu membantu tim medis menolong beberapa orang yang
ntah kenapa juga terluka termasuk Venus.
*Flashback End*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar